RAMAL NEWS.COM

SMA NEGERI 3 NGANJUK HIDUPKAN KEJAYAAN MATARAM KUNO DALAM MAHAKARYA PAWAI BUDAYA


Angkat Kisah Sri Maharaja Rakai Pikatan, Bawa Pesan “Satu Nusantara, Abadi dalam Persatuan”

NGANJUK ( Jatim ),Ramalnews.com — Jomsen Silitonga,

SMA Negeri 3 Nganjuk menghadirkan sebuah mahakarya budaya yang memadukan sejarah, seni, kreativitas dan pendidikan melalui Mahakarya Pawai Budaya, Sabtu (15/08/2026).

Mengangkat tema “Kejayaan dan Kemegahan Kerajaan Mataram Kuno Era Sri Maharaja Rakai Pikatan”, pawai budaya tersebut menjadi ruang bagi para siswa SMA Negeri 3 Nganjuk untuk menghidupkan kembali kisah sejarah Nusantara melalui seni pertunjukan.

Semangat yang diusung dalam kegiatan tersebut adalah “Satu Nusantara, Abadi dalam Persatuan.”

Pawai budaya dijadwalkan berlangsung mulai pukul 13.00 WIB dengan rute Stadion Anjuk Ladang menuju Jalan A. Yani, Kabupaten Nganjuk.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A. bersama Wakil Bupati Nganjuk Trihandy dijadwalkan membuka kegiatan tersebut. Unsur Forkopimda, jajaran Polsek Kota Nganjuk serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan pelajar tersebut.

Namun, pusat perhatian dalam mahakarya ini tetap tertuju pada SMA Negeri 3 Nganjuk dan kreativitas para peserta didiknya dalam menerjemahkan sejarah Mataram Kuno ke dalam sebuah pertunjukan budaya.

KETIKA SEJARAH MATARAM KUNO DIHIDUPKAN PELAJAR

Bagi SMA Negeri 3 Nganjuk, pawai budaya ini bukan sekadar parade kostum maupun pertunjukan di hadapan masyarakat.

Melalui tema Mataram Kuno, para siswa diajak memahami kembali perjalanan sejarah Nusantara, khususnya kisah Sri Maharaja Rakai Pikatan, salah satu tokoh penting dalam sejarah Mataram Kuno pada abad ke-9.

Kisah Rakai Pikatan juga berkaitan dengan Pramodhawardhani, putri dari lingkungan Wangsa Sailendra. Perkawinan keduanya kerap dipandang sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah Mataram Kuno karena mempertemukan dua lingkungan kekuasaan dan tradisi keagamaan yang berbeda.

Kisah tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi SMA Negeri 3 Nganjuk untuk mengangkat pesan tentang persatuan dalam keberagaman.

Bagi generasi muda, sejarah tidak harus selalu hadir dalam bentuk teks di buku pelajaran. Sejarah juga dapat dipelajari melalui seni, kreativitas, busana, karakter, simbol, gerak dan pertunjukan.

Inilah yang coba dilakukan SMA Negeri 3 Nganjuk melalui Mahakarya Pawai Budaya.

DARI RAKAI PIKATAN MENUJU KEMEGAHAN MATARAM KUNO

Era Rakai Pikatan merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan Mataram Kuno di Jawa.

Warisan sejarah dan kebudayaan dari masa tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara. Salah satu peninggalan monumental yang sering dikaitkan dengan perkembangan Mataram Kuno pada periode tersebut adalah Candi Prambanan, yang kemudian dikenal sebagai salah satu kompleks percandian Hindu terbesar di Indonesia.

Kemegahan arsitektur, seni, relief, arca dan nilai kebudayaan yang diwariskan dari masa lampau menjadi gambaran mengenai tingginya peradaban masyarakat Jawa pada masa tersebut.

Gambaran itulah yang kemudian diterjemahkan siswa-siswi SMA Negeri 3 Nganjuk ke dalam konsep pawai.

Busana bernuansa kerajaan, ornamen, karakter tokoh, simbol budaya hingga gerakan pertunjukan dirancang untuk membawa suasana Mataram Kuno ke tengah masyarakat Nganjuk.

Dengan demikian, siswa bukan hanya tampil sebagai peserta pawai, tetapi juga menjadi bagian dari proses menghidupkan kembali cerita sejarah melalui kreativitas generasi muda.

“SATU NUSANTARA, ABADI DALAM PERSATUAN”

Tema yang diangkat SMA Negeri 3 Nganjuk memiliki pesan yang lebih luas daripada sekadar menggambarkan kemegahan sebuah kerajaan.

Melalui kisah Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani, pawai ini memberikan gambaran tentang pertemuan dua lingkungan tradisi yang berbeda dalam perjalanan sejarah Mataram Kuno.

Pesan tersebut kemudian dipertegas melalui semboyan:

“Satu Nusantara, Abadi dalam Persatuan.”

Bagi SMA Negeri 3 Nganjuk, keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah. Sebaliknya, keberagaman merupakan bagian dari kekayaan sejarah dan budaya yang harus dikenalkan kepada generasi muda.

Pawai budaya menjadi media untuk menyampaikan pesan tersebut dengan cara yang lebih dekat dengan dunia pelajar.

SMA NEGERI 3 NGANJUK, SEJARAH MENJADI PANGGUNG KREATIVITAS

Mahakarya Pawai Budaya SMA Negeri 3 Nganjuk juga menjadi gambaran bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas peserta didik.

Para siswa dituntut tidak hanya memahami tema yang dibawakan, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat.

Mulai dari proses memahami sejarah, menentukan karakter, menyiapkan busana, menata penampilan hingga menampilkan pertunjukan di ruang publik, semuanya menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Dengan cara tersebut, sejarah Mataram Kuno tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi hadir sebagai pengalaman kreatif yang melibatkan para siswa secara langsung.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan sejarah dapat dikemas secara menarik tanpa kehilangan nilai edukatifnya.

DIDUKUNG PEMERINTAH DAN MASYARAKAT

Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk, unsur Forkopimda, jajaran Polsek Kota Nganjuk, OPD serta unsur terkait menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan budaya yang digelar SMA Negeri 3 Nganjuk.

Dukungan tersebut diharapkan mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus mengenalkan kekayaan sejarah dan budaya kepada masyarakat.

Bagi SMA Negeri 3 Nganjuk, kegiatan ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga ruang bagi lahirnya kreativitas dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

DARI NGANJUK, GENERASI MUDA BICARA TENTANG SEJARAH

Pada akhirnya, Mahakarya Pawai Budaya SMA Negeri 3 Nganjuk bukan hanya bercerita tentang kejayaan Mataram Kuno atau sosok Sri Maharaja Rakai Pikatan.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi cara para pelajar menyampaikan pesan bahwa sejarah Nusantara memiliki perjalanan panjang yang sarat dengan keberagaman, kebudayaan dan persatuan.

Dari kisah masa lalu, SMA Negeri 3 Nganjuk mencoba menghadirkan pesan untuk generasi sekarang: kemegahan sebuah peradaban tidak hanya diukur dari bangunan dan kekuasaan, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan budaya serta merawat persatuan.

Melalui kreativitas para siswa, kisah Mataram Kuno kembali hadir di tengah masyarakat Nganjuk.

SMA Negeri 3 Nganjuk tidak sekadar menggelar pawai budaya. Sekolah ini membawa sejarah ke jalanan, menjadikannya panggung kreativitas, sekaligus menanamkan pesan persatuan kepada generasi muda.

“Satu Nusantara, Abadi dalam Persatuan.”

( Kaperwil Jatim/Rsmalnews.com )

© Hak cipta 2026 - RamalNews.com