RAMAL NEWS.COM

Warga Binaan KPLP Kelas II Labuhan Ruku Meninggal Dunia, Keluarga Soroti Luka Lebam dan Dugaan Pungli



Batubara (Sumut), Ramalnews.com- Kematian seorang warga binaan di KPLP Kelas II Labuhan Ruku, Kabupaten Batu Bara, menyisakan duka mendalam sekaligus memunculkan tanda tanya besar bagi pihak keluarga. Korban dilaporkan meninggal dunia dengan kondisi tubuh mengalami luka memar dan lebam di bagian punggung, sehingga memicu dugaan adanya tindak penganiayaan di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah keluarga korban mengungkap sejumlah kejanggalan yang diduga terjadi sebelum korban meninggal dunia.

Korban Sempat Mengaku Takut dan Meminta Uang Rp 2,5 Juta
Istri korban, Perangin-angin, mengaku sempat melakukan video call dengan suaminya pada malam sebelum korban dinyatakan meninggal dunia. Dalam percakapan itu, korban disebut meminta uang sebesar Rp 2.500.000 karena merasa terancam berada dalam satu kamar dengan seseorang yang disebut sebagai musuh lamanya saat masih berada di luar lapas.

“Dia bilang takut karena satu kamar dengan musuhnya. Katanya uang itu untuk diberikan kepada tahanan tersebut supaya dia aman dan tidak diganggu. Karena takut terjadi sesuatu, saya langsung mengirim uang itu,” ungkap Perangin-angin kepada awak media, Sabtu (23/5/2026).

Permintaan uang tersebut kini menjadi sorotan keluarga, karena hanya berselang beberapa jam setelah pengiriman uang dilakukan, pihak keluarga justru menerima kabar bahwa korban telah meninggal dunia.
Jenazah Ditemukan Mengalami Luka Lebam
Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah melihat langsung kondisi jenazah korban. Mereka mengaku menemukan sejumlah luka memar dan lebam pada tubuh korban, khususnya di bagian punggung.

Kondisi itu memunculkan dugaan adanya kekerasan fisik yang dialami korban sebelum meninggal dunia. Hingga kini, pihak keluarga masih mempertanyakan penyebab pasti kematian korban karena belum adanya penjelasan resmi dari pihak lapas maupun hasil pemeriksaan medis secara terbuka.

“Kami melihat ada luka lebam di tubuh suami saya. Kami ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana,” ujar pihak keluarga.

Keluarga Mengaku Diminta Biaya Saat Menjemput Jenazah, Tidak hanya soal dugaan kekerasan, keluarga korban juga mengungkap dugaan pungutan liar saat menjemput jenazah korban di Puskesmas Talawi.

Menurut Perangin-angin, pihak keluarga masih dimintai sejumlah uang dengan alasan biaya penanganan medis, meskipun korban telah meninggal dunia.
“Ketika kami menjemput jenazah di Puskesmas Talawi, kami masih diminta biaya oleh pihak lapas. Padahal suami saya sudah meninggal dunia,” katanya dengan nada kecewa.

Pihak Lapas Belum Beri Penjelasan Resmi
Saat dikonfirmasi awak media terkait penyebab kematian warga binaan tersebut, pihak KTU KPLP Kelas II Labuhan Ruku disebut belum memberikan penjelasan rinci.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi mengenai kronologi kejadian, penyebab kematian korban, maupun hasil pemeriksaan medis terhadap jenazah.

Sementara itu, pihak Polres Batu Bara melalui humas menyatakan masih melakukan pengecekan informasi dan belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut kepada media.

Keluarga Minta Otopsi dan Penyelidikan Transparan, Pihak keluarga mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan secara transparan dan profesional, termasuk melakukan otopsi terhadap jenazah guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Selain itu, keluarga juga meminta aparat menelusuri dugaan praktik pungutan liar serta aliran dana Rp2,5 juta yang diminta korban beberapa jam sebelum meninggal dunia.

Kasus ini kini menjadi sorotan masyarakat dan dinilai menambah daftar perhatian terhadap sistem keamanan, pengawasan, dan dugaan praktik kekerasan di dalam lembaga pemasyarakatan.

Keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap fakta sebenarnya dan memberikan keadilan bagi almarhum. (Tim/Red)

© Hak cipta 2026 - RamalNews.com