Lombok Tengah, Ramalnews.com- Kelangkaan gas LPG 3 kilogram (kg) dalam sepekan terakhir di wilayah Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian meresahkan masyarakat. Selain sulit diperoleh, harga di tingkat pengecer dilaporkan melonjak hingga Rp25.000 per tabung, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Terjadi kelangkaan LPG 3 kg disertai lonjakan harga dan ditemukannya sejumlah tabung dalam kondisi berkarat parah yang diduga tidak layak pakai.
Tim gabungan yang terdiri dari Badan Advokasi Indonesia (BAI) DPD NTB, LPKPI-RI NTB, serta insan media dari Media Mitra Mabes, Lingkaran Polri, dan Ramal News turun langsung melakukan pemantauan dan investigasi.
Peristiwa ini terjadi di wilayah Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kelangkaan dan temuan tabung tidak layak pakai ini terjadi dalam sepekan terakhir dan masih berlangsung hingga saat ini.
Berdasarkan temuan awal, kelangkaan diduga bukan semata faktor distribusi biasa, melainkan mengarah pada praktik penimbunan, distribusi tidak tepat sasaran, serta permainan harga oleh oknum tertentu. Bahkan, tim juga mencium adanya dugaan sindikat yang bermain di balik kondisi ini.
Bagaimana tindak lanjutnya ?, Tim gabungan menyatakan akan melakukan langkah-langkah tegas, antara lain:
Mengumpulkan data dan bukti di lapangan
Menelusuri jalur distribusi LPG subsidi
Mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat
Mendorong aparat penegak hukum untuk segera bertindak
Perwakilan tim menegaskan, investigasi ini bertujuan mengungkap akar persoalan sekaligus memberi efek jera bagi pihak-pihak yang mencoba meraup keuntungan di tengah kesulitan masyarakat.
Selain itu, temuan tabung LPG berkarat parah menjadi perhatian serius. Secara teknis, tabung yang mengalami korosi berat berpotensi mengalami kebocoran hingga memicu ledakan, sehingga membahayakan keselamatan pengguna.
Masyarakat pun diimbau untuk aktif melaporkan jika menemukan penjualan LPG di atas HET atau tabung dalam kondisi tidak layak pakai.
Hingga berita ini diterbitkan, tim gabungan masih melakukan pendalaman di lapangan guna memastikan distribusi LPG subsidi berjalan normal, harga kembali stabil, dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. (H. Sujayadi Kaperwil NTB)
